Sabtu, 06 Mei 2017

Terapi bermain dengan origami pada anak

 TERAPI  BERMAIN PADA ANAK PRA SEKOLAH DENGAN KERTAS ORIGAMI
A.    Konsep bermain
1.      Definisi
Bermain merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan. Bermain merupakan aktivitas yang dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak dan merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial sehingga bermain merupakan media yang baik untuk belajar karene dengan bermain anak-anak akan belajar berkomunikasi, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan dapat mengenal waktu, jarak serta suara.
Melipat origami adalah suatu permainan melipat kertas  yang berasal dari jepang yang berfungsi melatih motorik halus dalam masa perkembangannya.
2.      Manfaat bermain
Bermain memiliki banyak manfaat yaitu :
a.         Membuang ekstra energi.
b.        Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan organ-organ.
c.         Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
d.        Anak belajar mengontrol diri.
e.         Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya.
f.         Meningkatnya daya kreativitas
g.        Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak.
h.        Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaan.
i.          Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.
j.          Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan.
k.        Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.

3.      Macam-macam bermain
a.       Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
1)      Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
2)      Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan.
3)      Bermain drama (Dramatic Play)
Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-temannya.

4)      Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.
b.      Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan  mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.Contoh ; Melihat gambar di buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi dsb.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
1)      Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk aktif bermain.
2)      Tidak ada variasi dari alat permainan.
3)      Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
4)      Tidak mempunyai teman bermain
4.      Alat permainan edukatif (APE)
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk :
a.         Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
b.        Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.
c.         Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll.
d.        Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan anak, keluarga dan masyarakat Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.
5.      Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Bermain
a.         Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
b.        Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
c.          Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada keterampilan yang lebih majemuk
d.         Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin  bermain.
e.         Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit
6.      Bentuk-bentuk permainan
a.       Usia 0 – 12 bulan
Tujuannya adalah :
1)      Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap, menggenggam.
2)      Melatih kerjasama mata dan tangan.
3)      Melatih kerjasama mata dan telinga.
4)      Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.
5)      Melatih mengenal sumber asal suara.
6)      Melatih kepekaan perabaan.
7)      Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.
Alat permainan yang dianjurkan :
1)      Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.
2)      Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.
3)      Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.
4)      Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.
5)      Alat permainan berupa selimut dan boneka.
b.      Usia 13 – 24 bulan
Tujuannya adalah :
1)      Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.
2)      Memperkenalkan sumber suara.
3)      Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.
4)      Melatih imajinasinya.
5)      Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan yang menarik
Alat permainan yang dianjurkan:
1)      Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.
2)      Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.
3)      Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang tidak mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), balok-balok besar, kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-coret, krayon/pensil berwarna.

c.       Usia 25 – 36  bulan
Tujuannya adalah ;
1)      Menyalurkan emosi atau perasaan anak.
2)      Mengembangkan keterampilan berbahasa.
3)      Melatih motorik halus dan kasar.
4)      Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan membedakan warna).
5)      Melatih kerjasama mata dan tangan.
6)      Melatih daya imajinansi.
7)      Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :
1)      Alat-alat untuk menggambar.
2)      Lilin yang dapat dibentuk
3)      Pasel (puzzel) sederhana.
4)      Manik-manik ukuran besar.
5)      Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
6)      Bola.
d.      Usia 32 – 72 bulan
Tujuannya adalah  :
1)      Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.
2)      Mengembangkan kemampuan berbahasa.
3)      Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.
4)      Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura (sandiwara).
5)      Membedakan benda dengan permukaan.
6)      Menumbuhkan sportivitas.
7)      Mengembangkan kepercayaan diri.
8)      Mengembangkan kreativitas.
9)      Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).
10)  Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.
11)  Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar rumahnya.
12)  Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal : pengertian mengenai terapung dan tenggelam.
13)  Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.
Alat permainan yang dianjurkan :
1)      Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat gambar & tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.
2)      Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.
e.       Usia Prasekolah
Alat permainan yang dianjurkan :
1)      Alat olah raga.
2)      Alat masak
3)      Alat menghitung
4)      Sepeda roda tiga
5)      Benda berbagai macam ukuran.
6)      Boneka tangan.
7)      Mobil.
8)      Kapal terbang.
9)      Kapal laut dsb

B.     Terapi bermain origami
1.    Definisi
 Kata origami berasal dari bahasa Jepang, dari kata oru yang berarti melipat dan kami berarti kertas. Penggabungan kata tersebut mengubah kata kami menjadi gami, sehingga bukan orikami tetapi origami, artinya sama yaitu melipat kertas.


                       

2.      Manfaat origami
origami untuk hobi, mengisi waktu luang, keindahan, dan lain sebagainya. Ibu-ibu atau orang tua mengajarkan origami pada anak-anak sebagai cara untuk mendekatkan anak dengan orang tua.
Selain itu origami bermanfaat untuk anak seperti :
a.       melatih motorik halus dalam masa perkembangannya.
b.      meningkatkan daya kreativitas
c.        mampu melatih otot jari tangan
d.      melatih kesabaran
e.       mengenal warna
Kebanyakan anak-anak tidak menyukai aktivitas melipat kertas. Salah satu kesalahan yang dilakukan para pendidik adalah dalam memilih model lipatan. Kesalahan tersebut dapat berdampak pada anak. Jika model lipatan yang dipilih berada dalam tingkatan melipat bukan untuk pemula maka anak akan merasa tidak mampu. Dan pengalaman pertama dengan aktivitas tersebut akan membuat anak beranggapan bahwa melipat adalah aktivitas yang sulit dikerjakan. Anak akan mulai belajar melipat kembali setelah orang dewasa mengajarkannya untuk melipat dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah dan dengan cara yang lebih menarik. Kesalahan yang lain adalah dalam cara pendidik mengajarkan melipat tersebut. Anak tidak mau melipat kertas karena cara pendidik mengajarkan dan memberi media kurang menarik. Bagi guru kegiatan melipat kertas dapat sekaligus digunakan sebagai media untuk pembelajaran terpadu. Melipat dapat disesuaikan dengan tema besar kegiatan pembelajaran. Mengawali kegiatan dengan bercerita adalah awalan yang sangat baik jika ingin mengajak anak berkreasi dengan melipat kertas. Pemberian reinforcement pada saat anak sedang mengerjakan sampai selesai mengerjakan lipatan adalah hal yang sangat penting dan berpengaruh pada anak. Kebanyakan anak dalam proses melipat tidak mampu melakukannya dengan sempurna. Hal itu tidak menjadi masalah karena konsep mengajarkan seni untuk anak bukan berpatokan pada hasil yang diharapkan tapi lebih kepada proses bagaimana anak mengerjakannya.

3.      Contoh origami untuk anak-anak
     



  







DAFTAR PUSTAKA
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC
Beal, Nancy. Rahasia mengajarkan seni pada anak. Yogyakarta:Pripoenbooks, 2003.

http://encarta.msn.com/media_461543414/Origami.html

Hiperemesis gravidarum

Hiperemesis Gravidarum
  1. Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan muntah berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat, sehingga menggganggu kesehatan dan pekerjaan sehari – hari (Arief. B., 2009).
Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum sehingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang , dieresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini di sebut hiperemesis gravidarum (Sastrowinata, 2004).
Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan (Lowdermilk, 2004). Jadi kesimpulan yang dapat penulis ambil, hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan yang dapat mengganggu aktivitas sehari – hari yang tidak terkendali selama masa hamil yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit atau defisiensi nutrisi dan kehilangan berat badan.
B.     Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan – perubahan anatomic pada otak, jantung, hati, dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat – zat lain akibat inanisi. Beberapa factor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut:
1.         Faktor predisposisi : primigravida, overdistensi rahim : hidramnion, kehamilan ganda, estrogen dan HCG tinggi, mola hidatidosa.
2.         Faktor organik: masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal, perubahan metabolik akibat hamil, resistensi yang menurun dari pihak ibu dan alergi
3.         Faktor psikologis: rumah tangga yang retak, hamil yang tidak diinginkan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu dan kehilangan pekerjaan (Wiknjosastro, 2005)
C.    Patofisiologi
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan volume cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah menyebankan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida air kemih turun. Selain itu jug adapt menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah berkurang. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah – muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran yang sulit dipatahkan.
Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi robekan pada selaput lender esophagus dan lambung (Sindroma Mallory Weiss) dengan akibat perdarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti sendiri, jarang sampai diperlukan transfusi atau tindakan operatif (Wiknjosastro, 2005).
D.    Manifestasi klinis
Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tidak ada; tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 tingkatan:
1.         Tingkatan I: Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium. nadi meningkat sekitar 100 kali/menit dan tekanan darah sistolik turun, turgor kulit mengurang, lidah mongering dan mata cekung.
2.         Tingkatan II: penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan Nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterik. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium  dalam hawa pernafasan, karena pempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
3.         Tingkatan III: Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran makin menurun hingga mencapai somnollen atau koma, terdapat ensefalopati werniche yang ditandai dengan : nistagmus, diplopia, gangguan mental, kardiovaskuler ditandai dengan: nadi kecil, tekanan darah menurun, dan temperature meningkat, gastrointestinal ditandai dengan: ikterus makin berat, terdapat timbunan aseton yang makin tinggi dengan bau yang makin tajam. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati (Wiknjosastro,2005).
E.     Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar ridak terjadi hyperemesis gravidarum dengan cara :
1.      Memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik.
2.      Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
3.      Menganjurkan mengubah makan sehari – hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering
4.      Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, terlebih dahulu makan roti kering atau biscuit dengan teh hangat
5.      Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan
6.      Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin
7.      Menghindari kekurangan kardohidrat merupakan factor penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula (Wiknjosastro, 2005).
F.     Penatalaksanaan
Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak berkurang maka diperlukan:
1.      Obat – obatan; Sedativa : Phenobarbital, Vitamin : Vitamin B1 dan B6 atau B – kompleks, Anti histamine : dramamin, avomin, Anti emetik (pada keadaan lebih berat) : Dislikomin hidrokloride atau khlorpromasine. Penanganan hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit
2.      Isolasi; Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah danperedaran udara yang baik, catat cairan yang keluar masuk, hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita sampai muntah berhenti pada penderita mau makan. Tidak diberikan makanan atau minuman dan selama 24 jam. Kadang – kadang dengan isolasi saja gejala – gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
3.      Terapi psikologika; perlu diyakinkan kepeda penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik.
4.      cairan parenteral; cairan yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukosa 5% dalam cairan fisiologis (2 – 3 liter/hari), dapat ditambah kalium dan vitamin (vitamin B komplek, vitamin C), bila kekurangan protein dapat diberiakan asam amino secara intravena, bila dalam 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum membaik dapat diberikan minuman dan lambat laun makanan yang tidak cair. Dengan penanganan diatas, pada umumnya gejala – gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.
5.      Menghentikan kehamilan; Bila keadaan memburuk dilakukan pemeriksaan medik dan psikiatrik, manifestasi komplikasi organis adalah delirium, takikardi, ikterus, anuria dan perdarahan dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung diantaranya:
a.    Gangguan kejiwaan ditandai dengan: delirium, apatis, somnolen sampai koma, terjadi gangguan jiwa.
b.    Gangguan penglihatan ditandai dengan: pendarahan retina, kemunduran penglihatan.
c.    Ganggguan faal ditandai dengan: hati dalam bentuk ikterus, ginjal dalam bentuk anuria, jantung dan pembuluh darah terjadi nadi meningkat, tekanan darah menurun. (Wiknjosastro, 2005).
G.    Komplikasi

Ensefalopati Wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental, serta payah hati dengan gejala timbulnya ikterus. (Arif, 2000).
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba IBG. Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan,. Jakarta: EGC; (2010).


Selasa, 02 Mei 2017

GASTRITIS

GASTRITIS
A.    Definisi
Gastritis adalah inflamasi pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa gaster (Hadi, 1999).Gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal (Price 2005).
Gastritis adalah peradangan lokal atau penyebaran pada mukosa lambung dan berkembang dipenuhi bakteri (Charlene, 2001).
Gastritis akut adalah inflamasi mukosa lambung, sering diakibatkan dari pola diet yang sembrono. Sedangkan gastritis kronik adalah inflamasi mukosa lambung yang berkepanjangan yang disebabkan baik oleh ulkus benigna atau maligna dari lambung, atau oleh bakterihelicobacter pylori (Brunner dan Suddart, 2002) Dari keempat definisi diatas, kelompok  dapat menyimpulkan bahwa gastritis adalah suatu inflamasi atau peradangan yang sering terjadi pada dinding lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal.
B.     Etiologi
1.      Pola makan yang tidak teratur: tidak tepat waktu.
2.      Iritasi yang disebabkan oleh rangsangan makanan, mislanya makanan pedas, terlalu asam,bergas, mengandung kafein dan alkohol
3.      Perokok: kandungan dari rokok seperti fenol, metanol, kadmiun, aseton, an lain-lain yang dapat berdampak terhadap erosi dan mukosa lambung.
4.      Infeksi oleh bakteri (toksin) atau infeksi virus, seperti helicobacter pylory
5.      Obat-obatan seperti aspirin, obat anti inflamasi non steroid yang dapat berdampak terhadap erosi pada mukosa lambung.
C.    Patofisiologi
Gastritis terjadi akibat peradangan pada mukosa lambung yang menimbulkan rasa nyeri yang dialihkan ke epigastirum bagian atas. Reflek-reflek pada mukosa lambung menyebabkan kalenjer saliva mengeluarkan saliva dalam jumlah besar. Dan sering menelan saliva menyebabkan banyak udara yang berkumpul di lambung. Penggunaan aspirin, alkohol, memakan makanan yang berbumbu secara berlebihan atau dalam jumlah yang besar dapat mengurangi daya tahan mukosa, ditambah dengan keadaan stres yang dapat menyebabkan sekresi asam lambung berlebihan dan ini akan menimbulkan komplikasi yaitu tukak lambung. (Guyton, 1998)
D.    Manifestasi klinis
1.      Nyeri ulu hati
Hal ini dapat disebabkan karena adanya suatu proses peradanganyang terjadi akibat dari adanya iritasi pada mukosa lambung.
2.      Anoreksia, Nausea dan Vomitus
Ketiga tanda ini sangat umum ditemukan. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan kadar asam lambung didalam tubuh khususnya pada organ lambung.
3.      Tekanan darah menurun, terkadang disertai pusing
4.      Keringat dingin
5.      Nadi cepat
6.      Perut terasa kembung
7.      Melena dan hematemesis
Hal ini dapt disebabkan karena adanya suatun proses perdarahan yang berawal dari adanya iritasi dan erosi pada mukosa lambung.
E.     Pencegahan
1.      Menjaga pola makan secara baik dan teratur. Hindari menunda waktu makan karena mengakibatkan produksi asam lambung meningkat
2.      Makan-makanan yang bersih, sehat dan bergizi, hindari makanan yang merangsang kerja lambung contohnya makanan pedas, asam dan kopi
3.      Hindari stress yang berlebih misalnya mengalihkan stress dengan berolahraga yang baik bagi tubuh.
4.      Tidak merokok, mengkonsumsi alcohol
5.      Hindari penggunaan obat-obatan yang mengiritasi lambung misalnya aspirin
F.     Komplikasi
1.      Perdarah saluran cerna bagian atas
2.      Hematemesis dan melena (anemia)
3.      Ulkus peptikum
4.      Perforasi
G.    Penatalaksanaan
Hal yang dapat dilakukan pada penderita gastritis adalah:
1.      Makan dengan porsi kecil tapi sering.
2.      Makan teratur dan tepat waktu
3.      Dianjurkan minum air hangat jika terjadi mual dan muntah
4.      Minum obat antasida (obat maag) jika gastritis kambuh
5.      Istirahat yang cukup
6.      Jika merokok sebaiknya hentikan merokok
7.      Segera periksa kedokter jika nyeri tidak kunjung hilang.

Jenis-jenis makanan yang dianjurkan bagi penderita gastritis:
1.      Sumber hidrat arang atau karbohidrat (bubur, kentang rebus, biscuit dan tepung-tepung yang dibuat bubur atau pudding)
2.      Sayur yang tak berserat dan tidak menimbulkan gas( labu kuning, labu siam, wortel, brokoli)
3.      Buah-buahan yang tidak mengandung asam dan tidak berakohol (pisang, papaya, tomat)

Makanan yang tidak dianjurkan:
1.      Makanan yang secara lansung merusak dinding lambung (nasi keras, ketan, jagung, ubi talas)
2.      Sumber protein hewani (daging yang berlemak, ikan asin)
3.      Buah-buahan tertentu (nangka, pisang ambon,durian)
4.      Minuman yang mengandung soda, kafein, alcohol (soft drink, tape, susu, anggur putih dan kopi)
5.      Makanan yang secara lansung merusak dinding lambung yaitu makanan yang mengandung cuka dan pedas
6.      Makanan yang sulit dicerna yang dapat memperlambat pengosongan lambung. Karena hal ini dapat meningkatkan asam lambung antara lain makanan berlemak, kue tart, coklat dan keju.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilyn E.dkk.2006.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Smeltzer,Suzanne C, Brenda G.Bare.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Sudarth, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC







EKOKARDIOGRAFI

EKOKARDIGRAFI BAB I PENDAHULUAN Ekokardiografi merupakan prosedur diagnostik yang menggunakan gelombang suara ultra untuk mengamat...